Minggu, 22 Maret 2015

RUN FOR LEPROSY (part 2)

Happy Sunday again Blogger! 

Melanjutkan cerita tentang kegiatan “RUN FOR LEPROSY” part 1. Sekarang ini, saya ingin membahas tentang penyakit Kusta yang menjadi inti diadakannya kegiatan tersebut.

Sejarah Penyakit Kusta
Penyakit Kusta atau Lepra adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang sebelumnya, diketahui hanya disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, hingga ditemukan bakteri Mycobacterium lepromatosis oleh Universitas Texas pada tahun 2008, yang menyebabkan endemik sejenis kusta di  Meksiko dan Karibia, yang dikenal lebih khusus dengan sebutan diffuse lepromatous leprosy. 

Sedangkan bakteri Mycobacterium lepraeditemukan oleh seorang ilmuwan Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen pada tahun 1873 sebagai patogen yang menyebabkan penyakit yang telah lama dikenal sebagai lepra.

Sekarang ini dikenal sebagai Penyakit Hansen atau Penyakit Morbus Hansen. Menjelaskan sedikit, mengapa sudah tidak disebut kusta/lepra, bukan hanya untuk menghargai jerih payah penemunya, melainkan juga karena kata leprosy dan leper mempunyai konotasi yang begitu negatif, sehingga penamaan yang netral lebih diterapkan untuk mengurangi stigma sosial yang tak seharusnya diderita oleh pasien kusta.

Ciri-ciri Penyakit Kusta

        
Manifestasi klinis dari kusta sangat beragam, namun terutama mengenai kulit, saraf, dan membran mukosa. Pasien dengan penyakit ini dapat dikelompokkan lagi menjadi :
kusta tuberkuloid (Inggris: paucibacillary), kusta lepromatosa (penyakit Hansen multibasiler), atau kusta multibasiler (borderline leprosy).
Kusta multibasiler, dengan tingkat keparahan yang sedang, adalah tipe yang sering ditemukan. Terdapat lesi kulit yang menyerupai kusta tuberkuloid namun jumlahnya lebih banyak dan tak beraturan; bagian yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai, dan gangguan saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang. Tipe ini tidak stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta tuberkuloid.

Kusta tuberkuloid ditandai dengan satu atau lebih hipopigmentasi makula kulit dan bagian yang tidak berasa (anestetik).

Kusta lepormatosa dihubungkan denganlesi, nodul, plak kulit simetris, dermis kulit yang menipis, dan perkembangan pada mukosa hidung yang menyebabkan penyumbatan hidung (kongesti nasal) dan epistaksis (hidung berdarah) namun pendeteksian terhadap kerusakan saraf sering kali terlambat.

Tidak sejalan dengan mitos atau kepercayaan yang ada, penyakit ini tidak menyebabkan pembusukan bagian tubuh. Menurut penelitian yang lama oleh Paul Brand, disebutkan bahwa ketidakberdayaan merasakan rangsang pada anggota gerak sering menyebabkan luka atau lesi. Kini, kusta juga dapat menyebabkan masalah pada penderita AIDS.


Pengobatan Penyakit Kusta
Sampai pengembangan dapson, rifampin, dan klofazimin pada 1940an, tidak ada pengobatan yang efektif untuk kusta. Namun, dapson hanyalah obat bakterisidal (pembasmi bakteri) yang lemah terhadap M. leprae. Penggunaan tunggal dapson menyebabkan populasi bakteri menjadi kebal, pada 1960an, dapson tidak digunakan lagi.

Pencarian terhadap obat anti kusta yang lebih baik dari dapson, akhirnya menemukan klofazimin dan rifampisin pada 1960an dan 1970an. Kemudian, Shantaram Yawalkar dan rekannya merumuskan terapi kombinasi dengan rifampisin dan dapson, untuk mengakali kekebalan bakteri. Terapi multiobat dan kombinasi tiga obat di atas pertama kali direkomendasi oleh Panitia Ahli WHO pada 1981. Cara ini menjadi standar pengobatan multiobat. Tiga obat ini tidak digunakan sebagai obat tunggal untuk mencegah kekebalan atau resistensi bakteri.

Terapi di atas lumayan mahal, maka dari itu cukup sulit untuk masuk ke negara yang endemik. Pada 1985, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di 122 negara. Pada Pertemuan Kesehatan Dunia (WHA) ke-44 di Jenewa, 1991, menelurkan sebuah resolusi untuk menghapus kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000, dan berusaha untuk ditekan menjadi 1 kasus per 100.000. WHO diberikan mandat untuk mengembangkan strategi penghapusan kusta.

Kelompok Kerja WHO melaporkan Kemoterapi Kusta pada 1993 dan merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar. Yang pertama adalah pengobatan selama 24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.
          
Sejak 1955, WHO memberikan paket obat terapoi kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementrian Kesehatan. Strategi ini akan bejalan hingga akhir 2010.
Pengobatan multiobat masih efektif dan pasien tidak lagi terinfeksi pada pemakaian bulan pertama. Cara ini aman dan mudah. jangka waktu pemakaian telah tercantum pada kemasan obat.


Setelah mengerti tentang Penyakit Kusta...
Hari ini, saya ingin memberikan Komitmen Diri saya terhadap Penyakit Kusta, saya tidak akan bersikap menjauhi ataupun merasa jijik. Saya akan  selalu memberikan motivasi, merangkul mereka, serta mendukung dan mengikuti kegiatan seperti “Run For Leprosy” guna meningkatkan kepedulian terhadap penyakit Kusta. Yang terpernting adalah, melakukannya dengan hati yang tulus.



Perubahan terjadi bukan hanya dari keinginan atau hanya dari niat saja, perubahan terjadi karena adanya pergerakan dari setiap diri masing-masing sehingga terbukti bahwa perubahan dapat terjadi. Sosialisasi yang baik dapat membantu terjadinya sebuah perubahan besar, seperti peran pemerintah terhadap Penyakit Kusta ini. Pemerintah harus berperan penting dalam kegiatan seperti “Run For Leprosy”. Kegiatan yang simple, menyenangkan, menyehatkan, dan sangat berdampak positif bagi setiap masyarakat untuk selalu peduli terhadap lingkungan sekitar. Sosialisasi dapat dilakukan mulai dari sekolah, universitas, maupun perusahaan. Perbuatan sekecil apapun dapat mengubah sesuatu hal menjadi hal yang besar dan berguna.

Demikian cerita saya seputar kegiatan "Run For Leprosy", Yansen (1601256696) Mahasiswa Bina Nusantara Alam Sutera. (Nomor Lari 6601).


RUN FOR LEPROSY (part 1)

Happy Sunday blogger! 

Hari ini saya mau share tentang aktivitas saya saat ikut sebuah acara yang sangat menarik di hari Minggu, 15 Maret 2015 kemarin.

Jadi minggu lalu, saya mengikuti sebuah acara kampus saya yang dinamakan "RUN FOR LEPROSY". Acara ini diinisiasi oleh Alam Sutera bersama Teach for Indonesia (TFI) dan BINA NUSANTARA (BINUS). Acara ini pertama kali di Indonesia yang di dedikasikan secara khusus untuk mereka yang mengalami atau yang pernah mengalami kusta. Bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap penyakit kusta.


Acara ini sangat berkesan buat saya...
Pertama, saya jadi semakin peduli terhadap sekitar saya, terutama orang-orang yang mengalami penyakit Kusta. Terkadang saya bersikap cuek atau gak peduli sama orang di sekitar saya, tetapi lewat acara yang diselenggarakan Kampus saya, saya jadi semakin menyadari bahwa masih banyak orang yang gak seberuntung saya. Saya masih bisa lakuin banyak hal secara normal.
Kedua, selain meningkatkan rasa kepedulian saya... Saya juga jadi merasa lebih segar setelah lari 5km, lari pagi membuat saya jadi bisa menghirup udara segar di pagi hari. Badan saya jadi semakin sehat.

Pesan saya buat GPDLI (Gerakan Peduli Disabilitas dan Leprosy Indonesia), TFI (Teach For Indonesia), serta BINUS (Bina Nusantara), tetap melakukan kegiatan yang berguna seperti ini...
Semakin majunya perkembangan teknologi di Indonesia membuat banyak sekali manusia yang cuek dan tidak peduli dengan orang sekitar, tetapi dengan adanya kegiatan Run For Leprosy, banyak sekali masyarakat (terutama anak muda) jadi semakin peduli dan mau terus berpartisipasi.

"Never stop doing little things for others. Sometime those little things occupy the biggest part of their hearts" -unknown



Yansen (1601256696), Mahasiswa Bina Nusantara Alam Sutera. (Nomor lari 6601)